Beranda blog

Diduga Pengedar Sabu, Warga Pancoran Dicokok Polisi

1784696982808

BONDOWOSO, Lagi-lagi Jajaran satuan reserse narkoba (Sat Reskoba) Polres Bondowoso mencokok Zainullah Bin Senol (30). Pasalnya ia diduga sebagai pengedar serbuk kristal atau sabu.

Zainullah warga dusun Widoro, Desa Pancoran, Bondowoso, Jawa Timur ini bertekuk lutut saat dicokok petugas, betapa tidak ia ketahuan menyembunyikan sabu didalam saku depan celananya.

Iptu Hadi Sukisman,Kasat Resnarkoba Polres Bondowoso mengatakan, Senol diamankan di jalan dusun Widoro, Desa Pancoran, Kecamatan kota Bondowoso,Rabu (3/7/2019) sekira pukul 23.00 WIB.

Penangkapan tersebut berawal dari informasi masyarakat yang menyampaikann adanya pelaku peredaran narkoba jenis sabu. Dengan ciri-ciri sesuai dengan tampilan fisik pelaku.

1785517338444

Setelah dilakukan penyelidikan dan dilakukan penggeledahan,ditemukan pada saku celana depan bungkusan plastik kecil yang berisi sabu.

“Dari Zainullah berhasil diamankan beberapa barang bukti, yaitu satu paket sabu yang dibungkus klip plastik disolasi. Serta uang tunai Rp 350 ribu dan satu HP,” kata Iptu Hadi, Kamis (4/7/2019).

Diterangkan bahwa berdasarkan barang bukti yang bersangkutan diduga melanggar Pasal 114 ayat (1) Subs Pasal 112 ayat (1) UU.RI No. 35 Tahun 2009, Tentang Narkotika.

“Ancaman hukuman minimal 6 tahun, maksimal 20 tahun,” katanya.

Sementara untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, serta penyidikan Zainullah diamankan di Mako Polres Bondowoso, setelah nanti berkas lengkap atau P21 akan segera diserahkan ke Kejaksaan.

1784091984781
file_00000000d4ac720b8315be53dad5e2f1
file_00000000f3dc71f699615aa3d7e15c43
Screenshot_20260730-221521

Diterjang Hujan Lebat, Dapur Rumah Warga Besuki Situbondo Ambruk

1784696982808

Situbondo – Hujan lebat yang disertai hembusan angin kencang di Kecamatan Besuki telah memporak porandakan dapur rumah warga yang bernama Samawi (55). Rumah Sanawi yang berlokasi di Rt 03, Rw 01, Dusun Mandar, Desa Belimbing, Besuki, Situbondo, Jawa Timur tepat pukul 03.00 dini hari, Jumat, (8/3).


Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun media online ini di lapangan menyebutkan bahwa, panjang rumah 5 meter dan lebar 6 meter yang berpenghuni 5 jiwa tersebut hancur pada bagian dapurnya.
“Untung saja kelima penghuni rumah itu selamat meski dalam keadaan tertidur lelap,” ujar Sonata, anggota tim Paskalis BPBD Situbondo, Jumat, (8/3).

1785517338444


Sonata menambahkan bahwa kerugian yang dialami korban yakni diperkirakan sekitar Rp 15 juta. (ans)

1784091984781
file_00000000d4ac720b8315be53dad5e2f1
file_00000000f3dc71f699615aa3d7e15c43
Screenshot_20260730-221521

Bukan Sekadar Label! BRK Reborn Digelorakan, Kopi Bondowoso Mulai Unjuk Gigi di Pasar Dunia

1784696982808

BONDOWOSO – Semangat menghidupkan kembali identitas Bondowoso sebagai Republik Kopi kembali digelorakan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso mendorong penguatan promosi kopi lokal melalui gerakan Bondowoso Republik Kopi (BRK) Ribon, sekaligus menggandeng pelaku media dan generasi Z untuk memperluas gaung kopi Bondowoso di ruang digital.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Bondowoso, Mulyadi, mengatakan penguatan kembali BRK bukan sekadar menghidupkan sebuah label, tetapi menjadi bagian dari upaya memperbesar promosi dan manfaat ekonomi dari komoditas kopi bagi masyarakat.

Hal itu disampaikan Mulyadi dalam kegiatan di Musik Geledek Lajuh Kironggo, Jumat (2/10/2026).

“Dalam rangka kita menghidupkan kembali Bondowoso Republik Kopi, kegiatan ini sangat membantu bagi kami, terutama untuk mempromosikan BRK Reborn,” kata Mulyadi.

Menurutnya, geliat kopi di Bondowoso sebenarnya telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, khususnya para pelaku usaha kopi. Namun, semangat promosi dan pengembangannya dinilai perlu terus diperkuat agar potensi tersebut tidak berhenti di tingkat lokal.

Mulyadi menyebut perkembangan sektor kopi Bondowoso berlangsung di berbagai lini, mulai dari sektor hulu hingga hilir. Bahkan, sejumlah pelaku kopi lokal disebut telah mampu membawa produk Bondowoso ke pasar luar negeri.

“Di beberapa event kita juga bisa bertarung di kancah nasional maupun internasional. Beberapa hari yang lalu kita juga sempat ekspor dari para pelaku kopi, ada yang ke Eropa dan juga ke Timur Tengah,” ujarnya.

Kopi dan Tembakau Jadi Penopang Ekonomi

Mulyadi menilai perkembangan tersebut menjadi sinyal positif bagi perekonomian daerah. Ia menyebut komoditas kopi dan tembakau turut memberikan kontribusi terhadap aktivitas ekonomi masyarakat Bondowoso.

Ia juga menyinggung capaian pertumbuhan ekonomi Bondowoso pada triwulan II yang menurutnya menjadi salah satu yang tertinggi di kawasan Karesidenan Besuki.

Namun, angka dan perbandingan tersebut tetap perlu dilihat berdasarkan data resmi statistik dan periode pengukuran yang digunakan.

1785517338444

Di sisi lain, Pemkab Bondowoso juga mengapresiasi peran komunitas kreator digital, termasuk Kampung YouTuber, yang ikut mempromosikan berbagai program daerah melalui media sosial.

Menurut Mulyadi, kekuatan promosi digital menjadi semakin penting karena pasar kopi tidak hanya membutuhkan produk berkualitas, tetapi juga narasi dan promosi yang mampu menjangkau konsumen lebih luas.

Gen Z dan Media Diajak Jadi Penggerak Promosi

Dalam kesempatan tersebut, Mulyadi juga menyoroti program yang diinisiasi PTPN I berupa kompetisi konten media sosial. Program tersebut disosialisasikan untuk menarik partisipasi masyarakat, khususnya kalangan media dan generasi Z, dalam mempromosikan Bondowoso Republik Kopi.

Ia menyebut antusiasme masyarakat terhadap program tersebut cukup tinggi.
Mulyadi mengajak masyarakat Bondowoso tidak hanya menjadi penonton dalam promosi potensi daerah sendiri.

Menurut dia, masyarakat lokal justru memiliki pengetahuan dan pengalaman langsung mengenai perkembangan komoditas kopi di daerahnya.

“Kita jangan sampai menjadi penonton atau pendengar dan tidak mendapatkan manfaat. Dengan kegiatan ini, insyaallah kita juga akan berpartisipasi dan mendapatkan manfaat sebesar-besarnya untuk masyarakat Bondowoso,” katanya.

Ia menilai media sosial memiliki daya jangkau yang besar untuk memperkenalkan kopi Bondowoso kepada khalayak yang lebih luas, termasuk pasar nasional dan internasional.

“Melalui media sosial ini kita bisa memassifkan promosi tentang perkembangan kopi di Kabupaten Bondowoso sehingga bisa didengar khalayak banyak, khususnya nasional maupun internasional,” pungkasnya.

Dengan demikian, penguatan BRK Reborn kini tidak hanya bertumpu pada produksi kopi, tetapi juga pada bagaimana potensi tersebut dikemas dan dipromosikan secara kreatif.

Tantangannya, promosi harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas produk, penguatan pelaku usaha, akses pasar, serta manfaat ekonomi yang benar-benar dirasakan masyarakat kopi di Bondowoso.

1784091984781
file_00000000d4ac720b8315be53dad5e2f1
file_00000000f3dc71f699615aa3d7e15c43
Screenshot_20260730-221521

“Jangan Besar Pasak daripada Tiang”, Ketua DPRD Bondowoso Minta Perumdam Ijen Tirta Berbenah Total

1784696982808

BONDOWOSO — Carut-marut pengelolaan Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Ijen Tirta Bondowoso kembali menjadi sorotan.

Persoalan perusahaan daerah yang menggunakan aset dan anggaran publik dinilai tidak bisa dibiarkan berlarut-larut tanpa pembenahan serius, terutama menyangkut efisiensi organisasi, beban kepegawaian, hingga kemampuan perusahaan memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Ketua DPRD Bondowoso, H.Ahmad Dhafir, menegaskan siapa pun yang nantinya dipercaya memimpin Perumdam Ijen Tirta harus berani melakukan penataan secara menyeluruh.

Menurutnya, jabatan direktur bukan sekadar posisi administratif, melainkan memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan perusahaan daerah mampu memberikan pelayanan sekaligus dikelola secara sehat dan efisien.

“Siapa pun yang nantinya menjadi direktur harus melakukan penataan,” demikian garis besar sikap yang disampaikan Ahmad Dhafir terkait kondisi Perumdam Ijen Tirta.

Sorotan paling keras mengarah pada persoalan rasio jumlah pegawai dibandingkan jumlah sambungan rumah (SR). Ahmad Dhafir merujuk pada Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 47 Tahun 1999 tentang Pedoman Penilaian Kinerja Perusahaan Daerah Air Minum, yang memang tercatat sebagai salah satu regulasi rujukan dalam pengelolaan dan penilaian kinerja PDAM.

Dalam argumentasinya, Dhafir menyebut rasio ideal yang menjadi pembanding adalah sekitar enam orang pegawai untuk setiap 1.000 sambungan rumah. Sementara itu, menurutnya, kondisi di PDAM Bondowoso mencapai sekitar sembilan orang untuk setiap 1.000 sambungan rumah.

Jika angka tersebut benar-benar mencerminkan kondisi aktual perusahaan, persoalannya bukan lagi sekadar berapa banyak pegawai yang dimiliki, tetapi seberapa besar beban biaya pegawai terhadap kemampuan perusahaan menghasilkan pendapatan.

“Jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang,” menjadi persoalan yang harus dijawab manajemen baru.

Dhafir bahkan mendorong adanya penataan ulang sumber daya manusia secara serius. Istilah yang digunakan adalah merumahkan atau melakukan penataan pegawai, yang secara substansi dapat berimplikasi pada pengurangan jumlah tenaga kerja apabila memang terdapat kelebihan pegawai berdasarkan kajian organisasi, kebutuhan pelayanan, kompetensi, dan kemampuan keuangan perusahaan.

Namun, langkah tersebut tentu tidak bisa dilakukan secara serampangan. Penataan pegawai harus didasarkan pada audit organisasi dan keuangan, kebutuhan riil pelayanan, ketentuan ketenagakerjaan, serta mekanisme hukum yang berlaku.

Belajar dari Batu dan Malang
Dhafir juga membandingkan efisiensi Perumdam Ijen Tirta dengan perusahaan air minum di daerah lain. Ia mencontohkan Kota Batu dan Kota Malang sebagai daerah yang dinilai mampu mengelola sumber daya manusia dengan rasio yang lebih efisien.

1785517338444

Data kinerja PDAM Kota Batu yang tersedia untuk 2019, misalnya, mencatat 13.473 pelanggan dengan 80 pegawai. Angka tersebut setara sekitar enam pegawai per 1.000 pelanggan, bukan tiga seperti angka yang disebutkan dalam pernyataan Dhafir.

Sementara data Perpamsi untuk PDAM Kota Malang tahun 2018 mencatat 162.369 pelanggan dengan 350 pegawai. Artinya, sekitar 2,16 pegawai per 1.000 pelanggan—jauh berbeda dari angka satu pegawai per 1.000 pelanggan yang disebutkan Dhafir.

Perbedaan angka tersebut justru menunjukkan bahwa pembenahan Perumdam Ijen Tirta perlu berbasis data aktual dan audit yang dapat diuji, bukan sekadar perbandingan angka.

Sebab, ukuran efisiensi perusahaan air minum tidak hanya ditentukan oleh jumlah pegawai. Kondisi jaringan, cakupan pelayanan, jumlah pelanggan, tingkat kehilangan air, kapasitas produksi, kondisi geografis wilayah, biaya energi, kualitas pelayanan hingga struktur organisasi juga ikut menentukan.

Dalam laporan kinerja PDAM Kota Batu, misalnya, selain jumlah pegawai juga tercatat indikator keuangan, jumlah pelanggan, biaya pegawai, serta biaya operasi.

Direktur Baru Jangan Hanya Duduk di Kursi

Karena itu, tantangan direktur baru Perumdam Ijen Tirta nantinya tidak ringan. Direktur dituntut bukan hanya mampu menjalankan rutinitas pelayanan air bersih, tetapi juga membongkar persoalan struktural yang membuat perusahaan sulit bergerak.

Jika memang terdapat kelebihan pegawai, harus ada kajian yang transparan. Jika struktur organisasi terlalu gemuk, harus dilakukan restrukturisasi.

Jika biaya operasional membebani perusahaan, harus dicari sumber pemborosan. Dan jika perusahaan belum mampu menyetor PAD, harus ada strategi bisnis yang terukur untuk memperbaiki kinerja keuangan.

Pada akhirnya, Perumdam Ijen Tirta bukan perusahaan milik pribadi. Perusahaan daerah tersebut membawa kepentingan publik dan mengelola sumber daya yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.

Karena itu, publik berhak mendapatkan perusahaan air minum yang sehat secara keuangan, efisien secara organisasi, profesional dalam pelayanan, dan mampu memberikan kontribusi kepada daerah.

“Pertanyaan besarnya kini sederhana: apakah direktur baru nanti berani melakukan penataan sampai ke akar persoalan, atau kembali membiarkan persoalan lama menumpuk di balik meja birokrasi?Saya sengaja mengoreksi bagian perbandingan Batu dan Malang: sumber yang saya temukan tidak mendukung angka 3 pegawai/1.000 SR untuk Batu dan 1 pegawai/1.000 SR untuk Malang. Angka resmi yang tersedia justru menunjukkan sekitar 6/1.000 untuk Batu dan 2,16/1.000 untuk Malang sementara untuk Bondowoso 9/1.000,”pungkasnya.

1784091984781
file_00000000d4ac720b8315be53dad5e2f1
file_00000000f3dc71f699615aa3d7e15c43
Screenshot_20260730-221521

Tunjangan Pendidikan Rp14,33 Juta untuk Direktur Perumdam Ijen Tirta Perlu Dipertanyakan, Diduga Tak Sesuai Ketentuan

1784696982808

BONDOWOSO — Pemberian tunjangan kepada jajaran direksi Perumdam Ijen Tirta Bondowoso menjadi sorotan dalam hasil audit.

Salah satu temuan ditengarai mencatat adanya penerimaan Tunjangan Pendidikan sebesar Rp14.333.092 yang diterima Direktur Perumdam Ijen Tirta, April Ariesta Bhirawa, S.E.

Berdasarkan uraian temuan audit yang diterima, dalam RKAP Tahun Anggaran 2025 yang ditetapkan pada 28 Oktober 2024 terdapat rencana anggaran belanja pegawai untuk pos Tunjangan Pendidikan atas nama Direktur PDAM.

Realisasinya kemudian tercatat pada 2025. April Ariesta Bhirawa disebut menerima tunjangan pendidikan diperkirakan hingga sebesar Rp14.333.092, dengan bukti tanda terima melalui rekening Bank Mandiri. Transaksi tersebut tercatat dalam Voucher Nomor 0624/VCH/VI/2025 tertanggal 12 Juni 2025.

Bukan Sekadar Soal Nominal

Sorotan audit bukan semata-mata mengenai besarnya uang yang diterima. Persoalan utamanya terletak pada dasar pemberian tunjangan tersebut.

Temuan audit menyatakan penerimaan tunjangan pendidikan tersebut bertentangan dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 23 Tahun 2024 tentang Organ dan Kepegawaian Badan Usaha Milik Daerah Air Minum.
Permendagri tersebut ditetapkan pada 23 Desember 2024 dan mulai berlaku pada 31 Desember 2024.

Dalam Pasal 12, Permendagri Nomor 23 Tahun 2024 secara spesifik menyebut tunjangan yang dapat diberikan kepada anggota Direksi BUMDAM, yakni tunjangan hari raya, tunjangan perumahan, tunjangan purna jabatan, dan tunjangan kinerja. Tunjangan pendidikan tidak tercantum dalam daftar tersebut.

Patut dipertanyakan landasan pemberian tunjangan pendidikan kepada Direktur, terlebih pembayaran tersebut dilakukan pada Juni 2025, setelah Permendagri Nomor 23 Tahun 2024 mulai berlaku.
RKAP Sudah Disusun, Regulasi Kemudian Berlaku

1785517338444

Ada satu aspek waktu yang juga penting dicermati. RKAP 2025 yang menjadi dasar perencanaan disebut telah ditetapkan pada 28 Oktober 2024, sedangkan Permendagri Nomor 23 Tahun 2024 baru ditetapkan pada 23 Desember 2024 dan berlaku sejak 31 Desember 2024.

Artinya, persoalan yang muncul dalam audit tidak berhenti pada kapan RKAP disusun, tetapi juga menyangkut pelaksanaan dan pembayaran tunjangan pada 2025, ketika regulasi baru tersebut sudah berlaku.

Pasal 12 sendiri tidak memasukkan tunjangan pendidikan sebagai jenis tunjangan Direksi BUMDAM. Sementara itu, ketentuan mengenai tunjangan tertentu seperti tunjangan perumahan dan tunjangan kinerja juga diatur lebih lanjut mengenai mekanisme pemberian dan penetapannya.

Kini Pertanggungjawabannya yang Ditunggu

Temuan tersebut pada akhirnya membuka pertanyaan penting mengenai siapa yang menetapkan, apa dasar hukumnya, serta bagaimana mekanisme pertanggungjawaban atas pembayaran Rp14,33 juta tersebut.

Apalagi, Perumdam Ijen Tirta merupakan badan usaha milik daerah yang pengelolaannya dituntut berjalan dengan prinsip tata kelola yang baik dan akuntabel.

Karena itu, temuan audit tersebut semestinya tidak berhenti sebagai catatan administratif. Penjelasan dari manajemen Perumdam, pemilik modal, maupun pihak yang berwenang diperlukan untuk menerangkan dasar pemberian tunjangan pendidikan, keputusan yang menjadi landasannya, serta tindak lanjut atas temuan audit tersebut.

Untuk diketahui uraian mengenai penerimaan Rp14.333.092, nomor voucher, tanggal pembayaran, dan hasil audit di atas bersumber dari materi yang Anda berikan. Yang terverifikasi dari sumber hukum adalah ketentuan Permendagri 23/2024 bahwa Pasal 12 mencantumkan empat jenis tunjangan Direksi tersebut dan tidak mencantumkan tunjangan pendidikan.

Dikutip dari berbagai sumber
Media ini masih membuka hak jawab bagi pihak yang merasa berhubungan dengan penulisan diatas.Sementara April Ariesta Bhirawa ketika dihubungi Telpnya tidak aktif.

1784091984781
file_00000000d4ac720b8315be53dad5e2f1
file_00000000f3dc71f699615aa3d7e15c43
Screenshot_20260730-221521

Bukan Sekadar Ungkapan, “Sampek Mate, Sampek Odik Pole” Jadi Tekad Merawat Mahabbah Guru

1784696982808

Bondowoso – “Sampek mate, sampek odik pole” bukan sekadar ungkapan kesetiaan seorang santri kepada gurunya. Bagi KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, S.Sy., M.H., Ph.D., kalimat tersebut merupakan cerminan komitmen untuk menjaga khidmah, mahabbah, serta ikatan ruhani dengan guru, bahkan melampaui batas kehidupan dunia.

Pesan itu disampaikan KHR. Ach. Azaim Ibrahimy dalam acara Tasyakuran dan Doa Bersama Harlah IKSASS ke-38 di Aula Lantai II Pusat IKSASS, Kamis, 1 Oktober 2026.

Ketua Umum Majelis Syuri Pusat IKSASS sekaligus Pengasuh ke-IV Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, tersebut berbicara dalam momentum yang mengusung tema “Merawat Mahabbah, Menjaga Sanad Perjuangan.”

Menurut KHR. Ach. Azaim, peringatan Harlah IKSASS tidak semestinya berhenti pada seremoni untuk menandai bertambahnya usia organisasi. Lebih dari itu, momentum tersebut harus menjadi ruang untuk mengingat sekaligus memperkuat kembali sanad pengabdian kepada para guru.

“Hari ini adalah hari yang terus kita kenang di setiap kalender tahunan. Hari ini adalah hari pengingat dan peneguh sanad pengabdian kita untuk terus berada dalam wilayah mahabbah guru-guru yang mulia,” ujarnya.

Dari momentum tersebut, KHR. Ach. Azaim mengajak para santri dan alumni kembali mengenang sosok Raden Ibrahim, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
Ia mengaitkan nama Ibrahim dengan keteladanan Nabi Ibrahim AS, salah satunya melalui makna Abun Rahimun, yakni sosok ayah yang penuh kasih sayang.

Menurutnya, ketokohan Nabi Ibrahim juga dapat direnungkan melalui peristiwa Isra’ Mi’raj ketika Nabi Muhammad SAW berjumpa dengan Nabi Ibrahim AS di langit ketujuh.

Nabi Ibrahim disebut berada di Baitul Ma’mur, yang dalam penjelasan keagamaan dikenal sebagai tempat yang memiliki kedudukan penting di langit ketujuh dan berkaitan secara simbolik dengan Baitullah di bumi.

Bagi KHR. Ach. Azaim, rangkaian keteladanan tersebut menyimpan pesan ruhani yang relevan untuk memahami makna khidmah, terutama hubungan antara seorang guru dan murid.

Ia kemudian mengaitkannya dengan konsep al-ubuwah, yakni ketokohan seorang ayah.

“Sejarahnya, fakta kemanusiaan, bahwa tidak ada satu pun nabi dan rasul menjalankan tugas kenabian kecuali dengan pendekatan al-ubuwah sebagai sosok ayah,” katanya.

Ia menyebut Nabi Adam sebagai Abul Basyar, Nabi Nuh sebagai ayahanda manusia setelah peristiwa banjir, dan Nabi Ibrahim sebagai Abul Anbiya.

Dari konsep tersebut, KHR. Ach. Azaim mengajak para santri memahami bahwa perjuangan para nabi dan rasul tidak hanya diwariskan dalam bentuk ilmu, tetapi juga melalui tata nilai, keteladanan, kasih sayang, dan tanggung jawab seorang ayah.

Dalam konteks pesantren, nilai itu menemukan bentuknya dalam relasi antara guru dan murid.
“Maka Raden Ibrahim adalah ayahanda ruhani kita,” tegasnya.

Menurutnya, para santri dan alumni merupakan anak-anak yang lahir dari doa, mujahadah, ajaran, serta dawuh para guru.
“Kita adalah anak-anak yang lahir dari rahim doa-doa beliau, yang lahir dari rahim mujahadah beliau, dari ajaran beliau, dari dawuh-dawuh beliau,” tuturnya.

Guru Mendidik dengan Kata dan Keteladanan

Bagi KHR. Ach. Azaim, guru tidak hanya berperan sebagai sosok yang mentransfer pengetahuan. Guru juga menghadirkan pendidikan melalui kasih sayang, rahmah, keteladanan, dan tindakan nyata.
Ia mengaitkan pandangan tersebut dengan pesan Nabi Muhammad SAW:
“Innamā anā lakum bimanzilatil-wālidi u’allimukum.”

1785517338444

Menurutnya, pesan tersebut mengandung makna bahwa Nabi Muhammad SAW menempatkan dirinya bagi umat seperti kedudukan seorang ayah yang mendidik anak-anaknya.

“Nabi sudah menegaskan, ‘Aku hanyalah bagi kalian seperti kedudukan seorang ayah. Aku mengajar kalian,’” jelasnya.
Dari sinilah, kata dia, dikenal konsep al-ubuwah fid-din, yakni kedudukan ayahanda dalam kehidupan beragama. Hubungan tersebut tidak semata-mata dibangun berdasarkan pertalian darah, tetapi melalui kasih sayang, pendidikan, pengabdian, dan keteladanan.

Menurut KHR. Ach. Azaim, seorang guru bahkan tidak selalu mendidik melalui ceramah atau kata-kata. Dalam banyak keadaan, tindakan sederhana seorang guru justru mampu meninggalkan pelajaran yang lebih dalam.

Ia menyebut prinsip lisānul hāl afshahu min lisānil maqāl, bahwa lisan keadaan terkadang lebih fasih daripada lisan perkataan.

“Kadang-kadang di antara guru kita ada yang nyaris jarang banyak bertutur kata, tetapi lisanul hal-nya mengajarkan ribuan makna kepada kita,” ujarnya.

Keteladanan itu, menurutnya, dapat ditemukan dalam berbagai hal sederhana. Mulai dari keistikamahan membuatkan kopi, menyangrai jagung untuk para santri, membangun dan membimbing santri secara konsisten, memberikan wejangan, hingga berkeliling pondok pada pagi hari untuk melihat aktivitas para santri.

Bagi KHR. Ach. Azaim, semua tindakan tersebut bukan sekadar rutinitas. Di balik kesederhanaan itu terdapat proses pendidikan yang berlangsung tanpa banyak kata.

“Semua itu adalah lisanul hal yang sering kali menjadi lebih fasih daripada lisanul maqāl,” ungkapnya.
Khidmah yang Melampaui Batas Kehidupan

Dari keteladanan para guru itulah, menurut KHR. Ach. Azaim, tugas-tugas mulia kenabian diteruskan melalui ta’limul ummah dan ta’limuth-thalabah, yakni mendidik umat dan mendidik para pelajar.
Pendidikan tersebut tidak semata-mata diarahkan untuk mencerdaskan pikiran. Lebih jauh, pendidikan diharapkan mampu menghidupkan hati dan ruh.

Ia menyebutnya sebagai hayātul qulūb, kehidupan hati, serta kehidupan arwah atau jiwa yang memiliki dimensi lebih panjang daripada kehidupan jasad.
Dalam kerangka itulah KHR. Ach. Azaim memaknai ungkapan “sampek mate, sampek odik pole.”

Ungkapan tersebut, menurutnya, menggambarkan kesetiaan seorang santri untuk terus menjaga hubungan dengan guru melalui khidmah dan nasab ideologis.
“Boleh. Memang sesuai dengan khidmat para guru-guru kita, bahwa kita bernasab ideologis kepada beliau,” katanya.

Nasab ideologis tersebut tidak hanya dimaknai dalam hubungan kehidupan di dunia. Lebih jauh, terdapat harapan agar ikatan dengan guru tetap terjaga hingga kehidupan akhirat.

“Bukan hanya di dunia, tetapi kita ingin bersama beliau di surga Allah,” lanjutnya.
Karena itu, ia mengingatkan para santri dan alumni agar tidak membiarkan hubungan dengan guru berhenti pada ikatan lahiriah.

Yang harus dijaga, kata dia, adalah ikatan iman dan ruhani.

“Rawatlah rābithah īmāniyah ini. Rawatlah rābithah rūhiyah ini. Yang jauh melampaui rābithah jasadiyah,” pungkasnya.
Pada akhirnya, “sampek mate, sampek odik pole” bukan sekadar semboyan kesetiaan.

Ungkapan itu menjadi penegasan bahwa khidmah kepada guru merupakan perjalanan panjang yang dirawat melalui mahabbah, diwujudkan melalui keteladanan, dan diteruskan melalui perjuangan.

Sebab bagi seorang santri, hubungan dengan guru bukan hanya tentang siapa yang pernah mengajarkan ilmu, melainkan tentang nilai, adab, dan perjuangan yang terus hidup setelah ilmu itu diterima.

1784091984781
file_00000000d4ac720b8315be53dad5e2f1
file_00000000f3dc71f699615aa3d7e15c43
Screenshot_20260730-221521

334 Warga Bondowoso Diverifikasi untuk Bantuan Modal Produktif KIP Jawara Tanpa Ada Potongan

1784696982808

BONDOWOSO — Sebanyak 334 warga Bondowoso masuk dalam proses verifikasi dan validasi (verval) calon penerima bantuan Kewirausahaan Inklusif dan Produktif Jawa Timur Sejahtera (KIP Jawara) dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Proses verval tersebut berlangsung di Ruang Ijen Raung, Pemkab Bondowoso, Jumat (2/10/2026). Pelaksanaannya dibagi menjadi dua gelombang untuk memastikan data calon penerima sesuai dengan ketentuan program.

Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) Bondowoso melalui Ifah Febrianti, Kepala Bidang Kesejahteraan Sosial, menyampaikan bahwa sebanyak 334 orang mengikuti tahapan verval tersebut.

“Sebanyak 334 orang akan mendapatkan bantuan KIP Jawara Provinsi Jawa Timur. Saat ini masih dilakukan verifikasi dan validasi,” kata Ifah.

Program KIP Jawara merupakan bantuan pemberdayaan sosial dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur yang menyasar masyarakat kurang mampu yang telah memiliki potensi maupun rintisan usaha.

Bantuan tersebut diberikan dalam bentuk modal usaha sebesar Rp3 juta untuk setiap penerima manfaat, yang pencairannya dilakukan melalui rekening penerima.

Bukan Bantuan Konsumtif
KIP Jawara dirancang bukan sekadar memberikan bantuan tunai, tetapi mendorong penerima agar memiliki aktivitas usaha yang lebih produktif dan mampu meningkatkan kemandirian ekonomi.

Dana tersebut dapat digunakan untuk membeli peralatan maupun kebutuhan usaha yang menunjang keberlangsungan usaha. Penggunaan untuk kebutuhan konsumtif maupun judi online tidak diperbolehkan.

Sasaran program KIP Jawara terbagi dalam empat kategori, yakni Putri Jawara, KPM Jawara, PPKS Jawara, dan Eks PPKS Jawara.

Putri Jawara menyasar perempuan yang menjadi penopang ekonomi keluarga. KPM Jawara ditujukan bagi keluarga penerima manfaat yang memiliki embrio usaha. Sementara PPKS Jawara menyasar Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial, sedangkan Eks PPKS Jawara diperuntukkan bagi penerima yang sebelumnya mendapatkan layanan kesejahteraan sosial dan dinilai siap mengembangkan usaha.

Syarat Tak Sekadar Terdaftar
Calon penerima tidak otomatis mendapatkan bantuan hanya karena terdata. Proses verifikasi dilakukan untuk memastikan kesesuaian persyaratan dan kondisi calon penerima di lapangan.

Dalam ketentuan program KIP Jawara 2026, penerima harus masuk dalam desil 1–5 data kemiskinan DTSEN, berusia 18 hingga 58 tahun, serta memiliki embrio atau rintisan usaha yang telah berjalan minimal satu tahun.

Tahapan verval menjadi penting karena bantuan yang disalurkan merupakan anggaran pemberdayaan yang ditujukan untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.

1785517338444

Dengan demikian, ketepatan data penerima menjadi salah satu bagian penting agar bantuan benar-benar diterima oleh masyarakat yang memenuhi kriteria program.

Sementara itu, Siti dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur menjelaskan bahwa penggunaan dana bantuan akan disertai mekanisme pertanggungjawaban melalui bukti pembelian.

Menurutnya, setelah dana masuk ke rekening penerima, penerima diwajibkan menggunakan dana sesuai peruntukannya dan menyiapkan bukti transaksi.

“Dana akan melalui rekening bank yangbakan dibayarkan tunai sama sekali tanpa potongan apapun. Harus ada nota, blangko foto dan nota print, termasuk nota belanja online,” jelas Siti.

Untuk pembelian menggunakan nota manual, penerima juga diwajibkan melengkapi dokumentasi berupa foto di depan toko tempat pembelian barang serta foto unboxing bersama penerima bantuan.

Ketentuan tersebut menjadi bagian dari mekanisme pengawasan agar dana bantuan benar-benar digunakan untuk kebutuhan usaha, bukan untuk kepentingan lain.

Penerima juga diberikan batas waktu maksimal lima hari setelah dana diterima untuk melakukan pembelanjaan sesuai ketentuan program dan melengkapi bukti transaksi.

Masuknya 334 warga Bondowoso dalam proses verval KIP Jawara menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas akses pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat kurang mampu.

Namun, bantuan modal sebesar Rp3 juta bukanlah tujuan akhir. Tantangan berikutnya adalah memastikan bantuan tersebut benar-benar berubah menjadi modal produktif yang mampu menjaga dan mengembangkan usaha penerima.

Karena itu, proses verifikasi, penggunaan dana, hingga pertanggungjawaban belanja menjadi rangkaian yang tidak dapat dipisahkan.

Bantuan bukan hanya soal dana yang cair, tetapi tentang bagaimana modal tersebut benar-benar bekerja untuk menguatkan usaha dan meningkatkan kemandirian ekonomi penerima.

 

1784091984781
file_00000000d4ac720b8315be53dad5e2f1
file_00000000f3dc71f699615aa3d7e15c43
Screenshot_20260730-221521

Empat Tahun Jadi Langganan Dropping, Pemkab Bondowoso Bidik Delapan Titik Kekeringan dengan Solusi Permanen

1784696982808

BONDOWOSO — Pemerintah Kabupaten Bondowoso mulai menggeser pola penanganan kekeringan dari sekadar respons darurat menuju solusi permanen.

Kalaksa BPBD Bondowoso Kristanto Putro Prasojo menyampaikan bahwa sebanyak delapan titik yang selama empat tahun terakhir berulang kali menjadi lokasi distribusi air bersih (dropping) kini masuk dalam pemetaan awal untuk ditangani secara lebih permanen.

Langkah tersebut dibahas dalam rapat yang membahas upaya mengatasi persoalan kekeringan secara berkelanjutan di pimpin oleh Sekretaris Daerah Fathur Rozi,Jum’at 2/10/2026.

Menurut Kristanto ,selama ini, kekeringan berulang hampir setiap tahun sehingga penanganannya lebih banyak dilakukan melalui distribusi air bersih kepada masyarakat terdampak.

“Arahan Bupati, Wakil Bupati, dan Sekretaris Daerah Bondowoso mendorong adanya langkah konkret agar persoalan kekeringan tidak terus-menerus ditangani dengan pola darurat,” tegasnya.

Persoalan ini sekali Gus akan menjawab semua permasalahan kekeringan yang berlangsung terus menerus selama 4 tahun.

“Setiap tahun itu pasti terjadi dan dilakukan penanganan darurat berupa dropping. Petunjuk Pak Bupati, Pak Sekda, Pak Wabup, upaya apa yang kita bisa lakukan untuk menuntaskan permasalahan itu secara permanen,” ujarnya.

Dari pemetaan dan identifikasi awal, pemerintah daerah mengerucutkan delapan titik yang dalam empat tahun terakhir tercatat berulang kali menjadi lokasi dropping air.

Beberapa wilayah yang disebut antara lain Kecamatan Botolinggo, Tlogosari, Wringin, dan Maesan, serta sejumlah kecamatan lainnya.

Persoalan kekeringan dalam rapat tersebut juga ditegaskan bukan semata-mata menjadi tanggung jawab Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Penanganan kebutuhan air bersih dipandang sebagai tanggung jawab pemerintah daerah karena air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat.

“Ini bukan ansich harus BPBD yang menangani, bukan beban dari BPBD. Ini adalah beban dari Pemerintah Daerah karena kebutuhan air bersih juga merupakan kebutuhan dasar dari masyarakat,” katanya.

Karena itu, solusi permanen akan ditempuh melalui kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD). Program yang sudah dimiliki masing-masing OPD akan dipadukan agar penanganannya tidak berjalan sendiri-sendiri.

Di antaranya, program pada sektor perumahan dan permukiman seperti Pamsimas dan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), serta program di sektor pertanian seperti irigasi perpompaan .

“Ini nanti akan dilakukan secara sinergi dan kolaboratif, dipadukan program-program dari OPD-OPD yang lain,” katanya.

1785517338444

Delapan Titik, Belum Tentu Delapan Sumur Bor

Rencana penanganan mulai diarahkan pada 2027. Namun, pemerintah daerah belum dapat memastikan besaran kebutuhan anggaran maupun bentuk pembangunan pada masing-masing titik.

Pasalnya, satu lokasi kekeringan belum tentu cukup ditangani dengan satu sumur bor. Kondisi di lapangan dapat membuat satu titik membutuhkan dua bahkan tiga sumur bor.

“Tapi satu titik itu belum tentu kebutuhannya satu sumur bor, tapi bisa butuh dua, butuh tiga. Tapi yang 2027 ada penanganan, jelas. Besarannya berapa, nanti kita pertajam lagi,” ujarnya.

Dengan demikian, angka delapan titik yang saat ini menjadi sasaran awal belum dapat diterjemahkan secara sederhana sebagai delapan proyek sumur bor. Kajian teknis dan kebutuhan masing-masing lokasi masih harus diperdalam.

Geolistrik Jadi Bagian Kajian Teknis
Untuk memastikan potensi sumber air tanah sebelum pembangunan dilakukan, pemerintah daerah juga akan menggunakan kajian potensi air tanah dan survei geolistrik.

Keduanya akan disandingkan untuk menentukan lokasi serta kedalaman sumber air yang potensial.

“Kalau potensi air tanahnya ada, bagus, maka secara detail akan digeolistrik kedalamannya berapa,” jelasnya.

Kajian tersebut menjadi penting agar pembangunan sarana air bersih tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga mempertimbangkan kondisi dan potensi sumber air di masing-masing wilayah.

Diupayakan Mulai Awal 2027
Penanganan permanen delapan titik tersebut direncanakan masuk agenda 2027. Pemerintah daerah berharap pelaksanaannya dapat dimulai sejak awal tahun, meski rincian kebutuhan dan teknis pelaksanaannya masih dalam pendalaman.

“Tadi disampaikan 2027. Mudah-mudahan bisa awal tahun,” ujarnya.

Sementara untuk kondisi kekeringan pada akhir 2026 dan awal 2027, narasumber menyebut kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang turut diperhitungkan.
Ia memperkirakan hujan mulai turun pada November, meskipun fenomena El Niño disebut masih berlangsung hingga awal tahun 2027.

“November insyaAllah sudah ada hujan, cuma El Nino-nya kan sampai awal tahun,” katanya.

Dengan rencana tersebut, tantangan pemerintah daerah bukan lagi sekadar bagaimana mendistribusikan air ketika kekeringan datang, melainkan memastikan delapan wilayah yang berulang kali mengalami krisis air memiliki solusi penyediaan air yang lebih permanen dan terukur.

 

1784091984781
file_00000000d4ac720b8315be53dad5e2f1
file_00000000f3dc71f699615aa3d7e15c43
Screenshot_20260730-221521

Hari Kesaktian Pancasila 2026 di Bondowoso: Sekda Fathur Rozi Tegaskan Semangat Persatuan dan Kebangsaan

1784696982808

BONDOWOSO, TAPALKUDA POST – Pemerintah Kabupaten Bondowoso memperingati Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2026 melalui upacara yang digelar di Halaman Sekretariat Daerah Kabupaten Bondowoso.

Sekretaris Daerah (Sekda) Bondowoso, Dr. Fathur Rozi, M.Fil.I., bertindak sebagai inspektur upacara mewakili Bupati Bondowoso.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun ini mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.” Tema tersebut menjadi pengingat pentingnya menjadikan Pancasila sebagai landasan dalam menjaga persatuan dan kehidupan berbangsa serta bernegara.

Upacara berlangsung dengan melibatkan berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat. Sejumlah unsur Forkopimda Bondowoso, pimpinan perangkat daerah, lembaga dan instansi vertikal, ASN, TNI, Polri, BUMN, BUMD, pelajar, serta korps musik turut hadir dalam kegiatan tersebut.

1785517338444

Keterlibatan lintas sektor itu menunjukkan bahwa peringatan Hari Kesaktian Pancasila tidak sebatas agenda seremonial. Momentum tersebut menjadi ruang untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga persatuan, menghormati keberagaman, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Pemerintah Kabupaten Bondowoso menempatkan nilai persatuan dan semangat kebangsaan sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Pancasila diharapkan tidak berhenti sebagai simbol, tetapi terus diwujudkan melalui sikap gotong royong, toleransi, kepedulian, serta tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.

Pesan utama dari peringatan tersebut jelas ,di tengah keberagaman masyarakat, persatuan menjadi kekuatan yang harus terus dijaga. Pancasila bukan sekadar dasar negara, melainkan pedoman bersama untuk membangun kehidupan bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur.

1784091984781
file_00000000d4ac720b8315be53dad5e2f1
file_00000000f3dc71f699615aa3d7e15c43
Screenshot_20260730-221521

Baznas Bondowoso Salurkan Bantuan Puluhan Juta  untuk UMKM Besek Ikan dan Beasiswa

1784696982808

BONDOWOSO – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Bondowoso bersama Kementerian Agama (Kemenag) Bondowoso menyalurkan dana sebesar Rp50 juta untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pendidikan di Kecamatan Binakal.

Dana tersebut dialokasikan untuk membantu permodalan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya perajin besek ikan atau bernyik, serta memberikan beasiswa bagi siswa-siswi tingkat MI/SD dan MTs/SMP di wilayah Kecamatan Binakal.

Program tersebut disalurkan melalui program Pemberdayaan Ekonomi Umat Berbasis KUA. KUA Kecamatan Binakal menjadi salah satu penerima program tersebut.

Kepala Kemenag Bondowoso, Ali Masyhur, mengatakan program tersebut merupakan bentuk kolaborasi antara Kemenag dan Baznas Bondowoso dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus mendukung pendidikan.

“Kebetulan yang terpilih adalah KUA Binakal. Jadi, Baznas Bondowoso dan Kemenag mengucurkan dana sebesar Rp50 juta untuk permodalan perajin besek ikan atau bernyik dan pemberian beasiswa,” kata Ali Masyhur, Rabu (30/9/2026).

Menurutnya, bantuan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai bantuan sesaat, tetapi mampu memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat di wilayah Binakal.
Ali berharap geliat ekonomi masyarakat semakin tumbuh melalui dukungan permodalan bagi pelaku UMKM. Di sisi lain, bantuan pendidikan diharapkan dapat membantu siswa dari keluarga penerima manfaat agar tetap memperoleh akses pendidikan.

1785517338444

“Harapannya, kondisi ekonomi masyarakat Binakal semakin tumbuh. Anak-anak atau siswa di Binakal juga semakin pintar,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Baznas Bondowoso KH Ahmadi mengatakan, pihaknya terus memperkuat kerja sama dengan Kemenag Bondowoso dalam pengelolaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS).

Ia menyebut Kemenag Bondowoso turut berkontribusi dalam penghimpunan dana ZIS yang kemudian dikelola dan disalurkan kembali kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Apalagi, Kemenag Bondowoso setor zakat, infak, dan sedekah sebesar Rp35 juta setiap bulannya,” kata KH Ahmadi.

Menurutnya, dana ZIS yang dihimpun Baznas tidak hanya disalurkan dalam bentuk bantuan konsumtif, tetapi juga diarahkan untuk pemberdayaan masyarakat, termasuk penguatan ekonomi dan sektor pendidikan.

“Karena itu, pihak Baznas Bondowoso terus berusaha menyalurkan dana zakat, infak, dan sedekah untuk pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.

Program tersebut menjadi salah satu upaya Baznas Bondowoso dan Kemenag dalam mengoptimalkan dana ZIS agar memberikan manfaat yang lebih luas, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan dukungan ekonomi dan pendidikan. (Eko)

1784091984781
file_00000000d4ac720b8315be53dad5e2f1
file_00000000f3dc71f699615aa3d7e15c43
Screenshot_20260730-221521

OJK Berharap PT Bondowoso Gemilang Jadi Offtaker Kopi, Bupati: Masih Dievaluasi

1784696982808

BONDOWOSO – Upaya membangun kembali ekosistem perdagangan kopi di Kabupaten Bondowoso mulai mengarah pada penguatan peran PT Bondowoso Gemilang (PT BG) sebagai offtaker utama. Namun, rencana tersebut masih menunggu hasil evaluasi menyeluruh terhadap kondisi perusahaan.

Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jember Aris Budiman mengatakan, apabila PT Bondowoso Gemilang berhasil direaktivasi dan dinyatakan memenuhi persyaratan, perusahaan daerah tersebut diharapkan menjadi pusat koordinasi perdagangan kopi Bondowoso.

“Ketika nanti Bondowoso Gemilang sudah teraktivasi kembali, sudah clear and clean, yang akan menjadi offtaker utamanya di Bondowoso adalah Bondowoso Gemilang,” ujar Aris.

Menurutnya, konsep tersebut diharapkan membuat pergerakan komoditas kopi Bondowoso lebih mudah dipantau. Kopi yang keluar dari daerah dapat tercatat melalui satu sistem koordinasi sehingga asal, tujuan, dan aktivitas perdagangannya lebih mudah ditelusuri.

Aris menegaskan, konsep tersebut bukan dimaksudkan untuk menciptakan monopoli perdagangan.

“Ini kita mengoordinasikan, bukan memonopoli. Di situlah peran penting BUMD sebagai offtaker,” katanya.

Kopi Bondowoso Selama Ini Banyak Keluar Lewat Daerah Lain

Aris menyoroti pola perdagangan kopi Bondowoso yang selama ini sebagian produknya diekspor melalui daerah lain, termasuk Lampung dan Gayo.

Kondisi tersebut, menurut dia, membuat potensi penerimaan daerah dari aktivitas ekspor kopi belum optimal tercatat sebagai aktivitas ekonomi yang bersumber dari Bondowoso.

Karena itu, keberadaan PT Bondowoso Gemilang sebagai offtaker diharapkan dapat memperkuat posisi Bondowoso dalam rantai perdagangan kopi, sekaligus membuat arus komoditas lebih terdokumentasi.

“Kalau selama ini kita ekspor melalui Lampung, melalui Gayo, tidak dari Bondowoso. Yang harusnya di situ Pemerintah Kabupaten Bondowoso bisa mendapatkan pendapatan, pajak dari ekspor tersebut,” jelasnya.

Certificate of Origin Tak Lagi Harus Diurus di Luar Daerah

Penguatan ekosistem kopi juga diarahkan pada kemudahan administrasi ekspor. Salah satunya melalui Certificate of Origin (COO) atau surat keterangan asal barang.

1785517338444

Aris menyebut Pemkab Bondowoso telah menyiapkan sumber daya manusia untuk mendukung proses tersebut. Dua orang telah dikirim mengikuti pelatihan terkait penerbitan Certificate of Origin.

Dengan kesiapan tersebut, pengurusan dokumen asal barang diharapkan nantinya dapat dilakukan di Bondowoso tanpa harus bergantung pada daerah lain.

“Tidak perlu lagi dari Banyuwangi, tidak perlu dari Jember. Nanti bisa mengurus di Kabupaten Bondowoso,” ujarnya.

Bupati: PT Bondowoso Gemilang Masih Dievaluasi

Sementara itu, Bupati Bondowoso KH Abdul Hamid Wahid menegaskan bahwa keberlanjutan PT Bondowoso Gemilang belum diputuskan secara final.

Menurutnya, perusahaan tersebut memang menjadi salah satu instrumen yang dipertimbangkan dalam penguatan ekosistem ekonomi daerah. Namun, pemerintah masih melakukan evaluasi terhadap kondisi perusahaan.

“PT Bondowoso Gemilang itu salah satu piranti. Sedang kita evaluasi, tetapi nampaknya kemungkinan memang ini akan kita lanjutkan,” kata Abdul Hamid.

Bupati menyebut sebelumnya telah dilakukan cut off menyusul berbagai persoalan yang terjadi di tubuh perusahaan. Pemerintah juga telah memperoleh legal opinion dari Kejaksaan sebagai bagian dari proses penanganan persoalan PT Bondowoso Gemilang.

Saat ini, Pemkab Bondowoso juga melakukan evaluasi bersama manajemen perusahaan milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang disebut terlibat dalam proses tersebut.

“Kalau nanti kondisinya cukup memadai, insyaallah akan kita teruskan. Kemungkinannya akan kita lanjutkan,” ujarnya.

Dengan demikian, rencana menjadikan PT Bondowoso Gemilang sebagai offtaker kopi belum menjadi keputusan final. Pemerintah masih menempatkannya dalam tahapan evaluasi, sementara OJK telah menyampaikan skema yang diharapkan dapat memperkuat posisi BUMD tersebut dalam tata kelola perdagangan kopi Bondowoso.

Jika terealisasi, skema tersebut akan mempertemukan tiga kepentingan sekaligus: penguatan BUMD, penataan rantai perdagangan kopi, dan peningkatan keterlacakan aktivitas ekonomi daerah.

1784091984781
file_00000000d4ac720b8315be53dad5e2f1
file_00000000f3dc71f699615aa3d7e15c43
Screenshot_20260730-221521

Bondowoso Terpilih Didampingi ILO Fase 3, Pemkab Bidik Revitalisasi Kopi dari Hulu hingga Hilir Wujudkan BRK Reborn

1784696982808

BONDOWOSO – Pemerintah Kabupaten Bondowoso menyiapkan langkah baru untuk mempercepat revitalisasi sektor kopi melalui penguatan kerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan International Labour Organization (ILO).

Bondowoso menjadi salah satu daerah yang dipilih untuk mendapatkan pendampingan ILO melalui Project PROMISE IMPACT Fase 3.

Program tersebut diarahkan untuk memperkuat ekosistem perkopian secara terintegrasi, mulai dari sektor hulu hingga hilir.

Bupati Bondowoso KH Abdul Hamid Wahid mengatakan, langkah tersebut berawal dari komitmen OJK dalam mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi daerah melalui pengembangan produk unggulan, salah satunya kopi.

“Program ini sebetulnya bermula dari komitmen OJK untuk mendorong percepatan perkembangan ekonomi, khususnya dalam produk unggulan kita, yaitu kopi,” ujar Bupati di Pendopo ,Rabu,30/09/2026.

Menurutnya, Pemkab Bondowoso sebelumnya telah menyampaikan kembali gagasan Bondowoso Republik Kopi (BRK) Reborn sebagai bagian dari upaya membangkitkan sektor perkopian daerah.
Komitmen tersebut kemudian mendapat dukungan OJK yang turut menjembatani komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk ILO.

Bondowoso Terpilih dari Tiga Kandidat

Abdul Hamid menyebut keterlibatan ILO menjadi momentum penting untuk menata kembali kebijakan pengembangan kopi di Bondowoso.

Pemerintah daerah, kata dia, kini akan mulai melakukan desain ulang sejumlah kebijakan strategis agar pengembangan kopi tidak berjalan parsial, tetapi dibangun dalam satu ekosistem yang saling terhubung.

“Kita akan mulai melakukan desain atau redesign kebijakan-kebijakan strategis untuk pengembangan perkopian, ekosistem perkopian di Bondowoso,” katanya.

Ia mengungkapkan, sebelum Bondowoso ditetapkan sebagai lokasi pendampingan ILO Fase 3, terdapat beberapa daerah yang menjadi kandidat.

“Setelah ada beberapa kandidat, ada tiga kalau tidak salah, kemudian terpilih Bondowoso,” ungkapnya.

Baca juga berita terkait :

ILO Akan Perkuat program BRK Reborn, Terutama Digitalisasi Komoditas Kopi Hingga Pasar Eropa

1785517338444

ILO Siapkan Project Fase 3 Komoditas Kopi di Bondowoso, OJK Perkuat Ekosistem dari Hulu ke Hilir

Final ILO Dukung Bondowoso dalam Project Fase 3 Tahun. 2026, OJK Jember Akan Banyak Libatkan Ekosistem Kopi

Ketua DPRD Bondowoso Sambut Positif Usulan OJK Final , Kopi Bondowoso Berpeluang Mendunia Lewat Ekosistem ILO

Gayung Bersambut! ILO Final, Putra Bupati Bondowoso Akan Bawa 40 Delegasi Kamerun Bidik Jejaring Kopi Global

ILO Bidik Bondowoso sebagai Kandidat Pilot Project Pemberdayaan Buruh dan Petani Kopi

Bagi Pemkab Bondowoso, terpilihnya daerah tersebut membuka peluang untuk mempercepat pembenahan sektor kopi yang selama ini menjadi salah satu komoditas unggulan.

Tak Sekadar Produksi, Ekosistem Kopi Dibangun dari Hulu ke Hilir
Abdul Hamid menegaskan bahwa pengembangan kopi tidak cukup hanya berbicara mengenai peningkatan produksi. Rantai ekosistemnya harus ditata secara menyeluruh, mulai dari petani sebagai sektor hulu hingga pengolahan, pembiayaan, pemasaran, dan akses pasar di sektor hilir.

Ia optimistis pendampingan ILO bersama dukungan OJK dapat mempercepat proses tersebut.

“Kita optimistis bahwa akselerasi perkembangan revitalisasi perkopian yang terintegrasi ekosistemnya mulai dari hulu ke hilir akan dapat tertata dengan baik,” ujarnya.

Pemerintah daerah, lanjutnya, siap memberikan dukungan kebijakan yang dibutuhkan serta mempertemukan berbagai pihak yang memiliki kepentingan dalam pengembangan komoditas kopi.

“Kita siap memberikan dukungan kebijakan dan apa yang diperlukan untuk itu, termasuk merangkul berbagai pihak untuk kita berkembang bersama-sama,” tutur Abdul Hamid.

Langkah tersebut sekaligus menempatkan BRK Reborn sebagai agenda penguatan ekosistem kopi Bondowoso, bukan sekadar slogan pengembangan komoditas.

Dengan dukungan lintas lembaga, pemerintah daerah berharap sektor kopi dapat semakin tertata, memiliki daya saing, serta mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi petani dan pelaku usaha di Bondowoso.

1784091984781
file_00000000d4ac720b8315be53dad5e2f1
file_00000000f3dc71f699615aa3d7e15c43
Screenshot_20260730-221521
error: Content is protected !! silahkan di menghubungi admin jika ingin copy conten ini ... terima kasih